Peningkatan Resapan Air Tanah dengan Saluran Resapan dan Rorak untuk Meningkatkan Produktivitas Belimbing Manis (Studi Kasus di Kota Depok)

Yanto Surdianto, Budi Indra Setiawan, Prastowo Prastowo, Satyanto Krido Saptomo
*

Sari


Permasalahan yang dihadapi oleh petani belimbing manis di kota Depok adalah masalah air, yang hanya mengandalkan air hujan. Karena itu, penelitian yang menyangkut teknik konservasi air untuk memanfaatkan air hujan dan aliran permukaan secara optimal telah dilakukan. Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui hubungan curah hujan, epavotranspirasi dengan produktivitas belimbing manis 2) mengetahui efek resapan air tanah terhadap produktivitas belimbing manis dan 3) mendapatkan model analisis kesetimbangan air tanpa aliran permukaan di kebun belimbing manis. Dalam penelitian ini dibuat saluran peresapan air yang dilengkapi rorak, tidak ada irigasi, dengan tinggi muka air tanah di atas 16 m dari permukaan tanah, sehingga komponen aliran permukaan dan kontribusi pergerakan kapiler dari air bawah tanah menjadi tidak ada (nol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Curah hujan dan evapotranspirasi berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas belimbing; 2) Curah hujan yang relatif tingggi diikuti oleh tingginya kadar air tanah di zona perkaran dengan kisaran 0,429-0,458 m3/m3, tanaman belimbing dapat berproduksi 4 kali panen dalam setahun; 3) Model zorro dapat digunakan untuk memprediksi kadar air tanah di zona perakaran dilihat dari kinerja yang relatif baik dengan koefisien derminasi (r2) mencapai 0,83.


Kata Kunci


hujan; infiltrasi; air tanah; belimbing; produktivitas; model

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Abdurachman, A., dan Sutono. 2002. Teknologi pengendalian erosi lahan berlereng. hlm. 103-145 dalam Abdurachman, A., Mappaona, dan Arsil Saleh (Eds.) Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Agus, F., E. Surmaini, dan N. Sutrisno. 2002. Teknologi hemat air dan irigasi suplemen. hlm. 239- 264 dalam Abdurachman et al. (Eds.). Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.

Arsyad, S. 2000. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Balai Penelitian Tanah. 2011. Teknologi Panen Hujan dan Konservasi Air.

Bray, E., 1997. Plant responses to water deficit. Trends in Plant Sci., 2, 48-54.

Dinas Pertanian Kota Depok. 2007. Laporan Tahunan Dinas Pertanian Kota Depok 2007.

Direktorat Tanaman Buah, Direktorat Bina Produksi. 2004. Standar Prosedur Oprasional (SPO) Bilimbing. Direktorat Tanaman Buah, Direktorat Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian.

Ditjen BPPHP Departemen Pertanian. 2002. Belimbing. Wahana Informasi Teknologi Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Pertanian. No. 19. Subdit Teknologi Pengolahan Hasil Hortikultura.

Doorenbos, J dan A. H. Kassam, 1979, Yield Respon to Water. FAO Irrigation and Drainage Paper 33. Rome, Italy: 193.

Fitter, A.H dan R.KM. Hay. 1998. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Andayani, S dan Purbayanti, E.D (ed. Terjemahan). Gadjah Mada University Press. Yoyakarta. P.142-199.

Gomez, K. A dan A.A Gomez. 1995. Prosedur Statistik untuk Penelitian Pertanian. Edisi Kedua. Universitas Indonesia.

Guslim, 2007. Agroklimatologi. USU Press,Medan.

Jackson, I. J. 1977. Climate,Water, dan Agriculture in Tropik. Longman. London.

Kartasapoetra, Ance Gunarsih. 1993. Klimatologi Pengaruh Iklim terhadap Tanah.

Merit, W.S. (2002). The Biophysical Toolbox: A Biophysical Modeling Tool Develoved Within the IWARM-DSS. ICAM Working Paper 2001/01.

Noeralam, A. 2002. Teknik Pemanenan Air yang Efektif dalam Pengelolaan Lengas Tanah Pada Usaha Tani Lahan Kering. Desertasi. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Noeralam. A, S. Arsyad, dan A. Iswandi. 2003. Teknik Pengendalian Aliran Permukaan Yang Efektif Pada Usahatani Lahan Kering Berlereng. Effective Technique. of Run Off Control on Sloping Upland Farming. Jurnal Tanah dan Lingkungan, Vol. 5 No.1, April 2003: 13-16.

Odum E,P, (1993). Dasar-dasar Ekologi. Jogjakarta. Gadjah Mada University Press.

Oldeman, L. R. 1975. An Agroclimate Map of Java. Central Research Institute for Agriculture Bogor.

Panigrahi B dan S. N. Panda. 2003. Field Test of a Soil Water Balance Simulation Model. ELSEVIER. Agricultural Water Management 58 (2003) 223–240.

Pereira, L.S. and R.G. Allen. 1999. Crop Water Requirement. In. CIGR Handbook of Agricultural Engineering Vol. I Land & Water Engineering. Editors: van Lier, H.N., L.S. Pereira, and F.R. Steiner.. American Society of Agricultural Engineering. Chapter 5.

Samson, J.A. 1992. Averrhoa Carambola. L. Plant Resources of South-East Asia II: Edible Fruits and Nuts. Bogor: Prosea Foundtion. p. 96-98.

Satyawibawa, I., dan Y. E. Widyastuti. 1992. 13 Jenis Belimbing Manis. Penanaman dan Usaha Penangkaran. Penebar Swadaya. Jakarta.

Stewart B.A., D.A Woolhiser, W.H. Wischmeier, L.H. Caro and M.H.Frere. 1976. Control of water pollution from cropland. Vol. 2. An overview. U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service. Beltsville, Maryland, USA.

Tala’ohu, S. H., A. Abdurachman, dan H. Suwardjo. 1992. Pengaruh teras bangku, teras gulud, slot mulsa flemingia dan strip rumput terhadap erosi, hasil tanaman dan ketahanan tanah Tropudult di Sitiung. Hlm. 79 – 89 dalam Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah : Bidang Konservasi Tanah dan Air. Bogor, 22 –24 Agustus 1989. Puslittanak. Bogor.


Statistik Tampilan

Sari : 1579 kali
PDF : 2169 kali


DOI: http://dx.doi.org/10.31028/ji.v7.i1.1-15

Hak Cipta (c) 2012 Jurnal Irigasi



Jurnal Irigasi terindeks oleh:

 

Creative Commons License

Jurnal ini di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License. Hak Cipta Jurnal Irigasi, didukung oleh OJS.